Pariwisata

Senin, 14 Mei 2018 | 12:51:24 WIB | Dibaca: 146 Kali


Kawasan peruntukan pariwisata di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dikelompokkan atas empat kawasan wisata yaitu kawasan wisata alam, kawasan wisata religi, kawasan wisata buatan dan kawasan wisata budaya.  

  • Kawasan wisata alam meliputi :
  1. Kawasan wisata air panas di Kecamatan Geragai.
  2. Cagar alam hutan bakau terdapat di Kecamatan Nipah Panjang dan Kecamatan Muara Sabak Timur.
  3. Kawasan wisata peternakan buaya di Kecamatan Dendang dan Kecamatan Sadu.
  4. Kawasan pesisir pantai di Kecamatan Sadu, dan
  5. Kawasan Taman Nasional Berbak di Kecamatan Berbak dan Kecamatan Sadu.
  • Kawasan wisata religi meliputi :                                                                 
  1. Makam Rangkayo Pingai dan makam Rangkayo Hitam di Kecamatan Berbak.
  2. Makam Naga Ukir di Kecamatan Muara Sabak Barat.
  3. Makam Syekh Johor di Kecamatan Kuala Jambi, dan
  4. Makam Siti Hawa di Kecamatan Rantau Rasau.
  • Kawasan wisata buatan meliputi :
  1. Kawasan koridor jembatan Muara Sabak di Kecamatan Muara Sabak Timur.
  2. Kawasan perkantoran di Kecamatan Muara Sabak Barat.
  • Kawasan wisata budaya terletak di Kecamatan Sadu dan Kecamatan Nipah panjang.

        Untuk menunjang kegiatan sektor pariwisata. di Kabupaten Tanjung Jabung Timur tersedia fasilitas hotel sebanyak 10 buah, semua hotel tersebut tergolong hotel non berbintang. Pada tahun 2016 total seluruh kamar tersedia 96 kamar dengan jumlah tempat tidur sebanyak 145 buah, nilai sosial budaya yang berkembang dalam tatanan kehidupan masyarakat lokal merupakan asset pembangunan yang sangat tinggi nilainya, sedang atraksi budaya dan objek wisata merupakan modal dasar untuk pengembangan perekonomian kerakyatan dimasa mendatang, setelah pertanian, industri, dan keuangan, maka pariwisata merupakan sektor unggulan yang harus terus dikembangkan.

          Berbagai atraksi dan objek wisata yang perlu dikelola dan dikembangkan di antaranya adalah Taman Nasional Berbak, mandi syafar serta Makam Orang Kayo Hitam, wisata Bahari di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur terdiri dari kawasan Koridor pantai Kuala Jambi yang di kenal oleh para pelaut dengan nama Ambang Luar merupakan salah satu pintu gerbang masuk ke Provinsi Jambi melalui laut, kawasan wisata air hitam, kawasan pantai alang-alang dan sungai ular dan kawasan gugusan karang atol, kawasan pantai cemara sadu yang merupakan tempat persinggahan migrasi burung dari belahan bumi utara ke selatan atau sebaliknya, sebagai pintu gerbang ekonomi Provinsi Jambi, kawasan koridor pantai Kuala Jambi merupakan lokasi memancing dan memilki daya tarik khusus yaitu adanya 3 spesies yang dilindungi yaitu lumba-lumba hitam,  pesut, duyung dan gajah air, selain itu telah dibangun Taman Selaras Pinang Masak di Koridor Jembatan Muara Sabak sebagi tempat untuk bersantai serta berolah raga.

 

1)    Taman Nasional Berbak

          Taman Nasional Berbak merupakan kawasan konservasi lahan basah terluas di Asia Tanggara, Taman Nasional ini ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 285/kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992 dengan luas 162.700 Ha, sebagai taman Nasional  Berbak mempunyai ekosistem yang masih asli serta keunikan ekosistem lahan basahnya yang merupakan satu kesatuan ekosistem hutan rawa gambut dengan luas dua pertiga bagian dan hutan rawa air tawar yang sepertiga bagian serta adanya kawasan pantai yang merupakan kawasan persinggahan burung-burung migrant.

Sebagai kawasan konservasi lahan basah yang masih asli dan unit serta kepentingannya bagi dunia internasional maka melalui keppres No. 48 tahun 1991 kawasan ini dimasukan ke dalam kawasan konvensi Ramsar yaitu perlindungan lahan secara Internasional. Taman Nasional Berbak secafa geografis terletak  diantara 104 06” - 104 30: BT dan 105” – 1 35’ LS sedangkan secara Administratif berada di dua wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Batanghari.

           Taman Nasional Berbak yang terletak di pesisir pantai timur Jambi tepatnya di Kecamatan Nipah Panjang, Rantau Rasau & Sadu, 69 km dari Kota Jambi dengan menelusuri Sungai Batanghari ke arah muara selama  3 jam. TNB ini mempunyai kondisi topografi yang relative datar dengan ketinggian hanya mencapai 12,5 meter diatas permukaaan laut dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut, Taman Nasional Berbak sebagai kawasan dengan ekosistem lahan basah rawa-rawa mempunyai ciri-ciri khusus yang ditandai dengan jenis-jenis vegetasi yang tahan dengan genangan air perakaran dengan banir (akar papan) yang tinggi dan kokoh serta akar-akar nafas menjadi pemandangan sendiri.

 

 2)    Taman Nasional Berbak (Flora dan Fauna)

       Di kanan kiri sepanjang sungai akan banyak kita jumpai jenis vegetasi Rasau, Bakung dan rumput-rumputan, selain itu daerah yang dipengaruhi oleh air asin awalnya selalu dimulai dengan pohon nipah (Nypha).

         Kawasan Taman Nasional terdapat 10 jenis pandan dari keluarga Pandanaceae bahkan lebih dari 27 jenis palem dari keluarga Aracaceae menjadikannya sebagai kawasan dengan jenis palem terbanyak di Indonesia, jenis palem yang termasuk ke dalam tanaman hias langka adalah jenis palem berdaun payung (Johannesteijsmannia altifron) tumbuhan endemik berbak yaitu lepidonia kingi larontaceae yang berbunga besar berwarna merah/ungu.

       Jenis pepohanan besar diantaranya Ramin (Gonystilus bancanus), jelutung (dyeracostulate), durian (Durio carinatus), pulai serta dari keluaraga Dipterocarpaceae, jenis-jenis anggrek hutan masih banyak yang belum terungkapkan diantaranya adalah anggrek harimau yang berbunga sepuluh tahun sekali.

     Beberapa jenis primata seperti Beruk (macaca nemestrina), Kera ekor panjang (Macaca fasticularis), Surih (presbitis critata) dan Siamang (Syphalagus syndactylus), kehidupan liar di air diantaranya dari jenis reftilia yaitu buaya muara (Crocodilus prosus), buaya air Tawar/Sinyulong (Tomintoma schegelii), kura-kura gading (Orlita borneisnsis), labi-labi serta beberpa jenis mamalia yang terdapat di kawasan ini diantaranya Tapir (Tapirus indicus), Harimau Sumatera (panther tigris sumatrensisi), Beruan Madu (Helartos malayanus).

 

3)    Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur

         Kawasan ini terletak di Desa Air Hitam Laut Kecamatan Sadu dengan  luas  6.500 ha yang memilki keanekaragaman flora & fauna serta keindahan panorama merupakan kawasan obyek penelitian ekosistem hutan mangrove, habitat burung-burung air & burung migrant, serta pengamatan satwa lainnya terutama di Desa Remao Bako tuo dan Desa Cemara.

         Kecamatan Sadu yang berperan sebagai pintu masuk ke Kawasan hutan lindung ekosistem hutan mangrove yang merupakan Taman Nasional Rawa Gambut terbesar di dunia selain itu di kawasan ini terdapat objek wisata di Desa Malaka yang merupakan habitat alami beberapa jenis budaya dan binatang buas lainnya.

 

4)    Makam Orang Kayo Hitam

           Orang kayo Pingai adalah kakak dari Orang Kayo Hitam, salah seorang putra dari Ahmad Barus dan Putri Mayang yang bergelar Datuk Paduko Berhalo yang wafat akhir abad ke-15 pada masa inilah Isalm masuk kedaerah Jambi kemudian memimpin Kerajaan Melayu Jambi, Orang Kayo Hitam terkenal akan kesaktiannya. Makam leluhur Kerajaan Melayu Jambi berukuran panjang 4,8 m, lokasinya yang berada di Desa Simpang, Kecamatan Berbak, 50 km dari Kota Jambi.

2)    Sumber Mata Air Panas

           Salah satu objek wiasata alam berupa air panas yang mengandung belerang ditemukan di Desa Pandan Sejahtera Kecamatan Geragai, sumber air panas ini ditemukan warga pada tahun 80-an dengan suhu di atas 37 C bahkan ada yang mencapai titik didih, potensi keindahan air panas ini masih belum digarap dengsan baik sehingga masih perlu sentuhan dan sarana pendudkung lainnya berupa jalan dan jembatan, di sekitar lokasi air panas panoramanya masih asri dengan rimbunan pohon. Pemerintah Kabupaten akan segara melokalisir sumber air panas ini agar tidak tercemar tentunya akan menjadi indikator yang positif bagi pengembangan aset wisata untuk menjadi lebih baik lagi.

 

3)    Pulau Tanpa Nama

         Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara baik dapat menjadi nilai tambuh bagi pemasukan dari sisi pemanfaatan pantai dan transpotasi, selain belum banyak tersentuh pembangunan, akses untuk memperdayakan masyarakat pantai yang sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan juga belum dilakukan, wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di pantai timur Provinsi Jambi itu memilki potensi cukup besar yang harus diselamatkan dari berbagai gangguan dan ancaman kerusakan lingkungan.

        Potensi yang besar dimilikinya secara ekologis dan ekonomis cukup menjanjikan jika pengelolaan dengan baik segera dilakukan seperti terumbu karang, hutan bakau (manggrove), plasma nuftah dan tempat berkembang biaknya berbagai jenis ikan dan species lainnya sedangkan dari sudut potensi ekonomi misalnya pertambangan, industri pelabuhan, transpotasi dan pariwisata, Laju pembangunan ekonomi dan pertumbuhan penduduk diwilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil itu apabila tidak diperhatikan akan menimbulkan kerusakana seperti abrasi pantai akibat kerusakan hutan bakau, pencemaran laut.

         Untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya pesisir dan meminimalisir masalah perlu adanya Peraturan yang memikat seperti Peraturan Daerah (Perda). Sebab dalam UU Nomor 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tanggung jawab pengelolaan wilayah pesisir dilimpahkan ke daerah baik itu Provinsi maupun Kabupaten/ Kota atau sesuai kewenangan masing-masing.

Berkenaan kewenangan wilayah pesisir dan laut dalam pasal 18 ayat (4) UU 32/2004 menetapakan kewenangan Provinsi atas ruang laut sampi 12 mil dari garis pantai kearah laut lepas dan perairan kepulauan. maka perlu di gali potensi sumber daya di wilayah pasisir dan laut di Kabupaten Tanjung Jabung Timur termasuk 19 pulau kecil yang yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang meliputi dua gugus yaitu gugus pulau Nipah dan pulau Tujuh.

         Provinsi Jambi memilki luas daratan dan lautan 53.435 km², meliputi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur seluas 12.993 Km² dan garis pulau pantai sepanjang 211,9 Km. Pulau-pulau kecil di wilayah pantai timur Provinsi Jambi berhadapan langsung dengan Selat Berhala dan Laut China Selatan.

          Pulau-pulau kecil itu memiliki strategis jika dilihat dari aspek territorial yang berhadapan langsung ke Singapura dan Malaysi sedangkan dari aspek ekonomi dan konservasi akan menjadi nilai tambah bagi daerah jika dikelola dan dimanfaatkan untuk wisata bahari dan wisata alam. Wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil yang merupakan jalur transportasi laut akan mendorong pertumbuhan Muara Sabak yang akan dijadikan sebagi pelabuhan ekspor dan impor sehingga dapat menjadi pintu gerbang ekspor dan kawasan pertumbuhan ekonomi masa depan Provinsi Jambi.

Komentar Facebook

Berita Terkini

View Indeks